10 Agustus 2009

Isu Teror, Inggris Pilih Mundur

ISU terorisme yang merebak di India dan mengancam menjadikan Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2009 di Hyderabad memakan korban. Inggris menyatakan mundur kemarin (9/8) karena khawatir akan keselamatan mereka. Padahal, pebulu tangkis Inggris sudah tiba dua hari sebelumnya. Sayang, Inggris tidak memberikan keterangan pers mengenai hal tersebut.

Namun, salah satu kekuatan di Benua Eropa itu telah menyampaikan alasan mereka menarik diri di situs Federasi Bulu Tangkis Inggris (BE). "Keputusan ini (mundur, Red) sangat berat. Sebab, kejuaraan ini adalah even bulu tangkis terbesar setelah Olimpiade. Tapi, kami tidak ingin mengambil risiko yang mengancam keselamatan pemain kami," jelas Chief Executive BE Adrian Christy.

Karena mundur, Inggris harus rela menerima denda sebesar USD 255 per pemain sesuai dengan aturan BWF. Setelah Inggris membuat keputusan tersebut, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), Asosiasi Bulu Tangkis India (BAI), dan otoritas keamanan lokal langsung mengadakan konferensi pers. Acara itu dilangsungkan di Gochibowli Indoor Stadium, Hyderabad, venueeven Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2009.

Thomas Lund, chief operating officer, mengatakan menyesal mendengar kabar tersebut. "Pada pertemuan manajer tadi, Inggris menyatakan mundur. Sangat disayangkan, tapi kami harus menghormati keputusan mereka," ujarnya. Lund mengatakan, BWF dan otoritas keamanan lokal telah menjelaskan situasi sebenarnya. "Itu hanya dugaan. Tapi, Inggris tetap kukuh pada keputusannya," terangnya.

Ketua BAI V.K. Verma menyatakan, selain Inggris, tidak ada tim lain yang mundur atau mengindikasikan bakal mundur. "Memang banyak yang bertanya soal keamanan kepada kami. Tapi, setelah kami beri penjelasan, mereka bisa mengerti," ucapnya.

Setelah Inggris mundur, masih ada 43 negara yang mengikuti even itu. Semua partai yang diikuti pemain Inggris dinyatakan batal dan lawan mendapat kemenangan walkout (WO).

Dua Julukan Sekaligus

SUDAH satu tahun Olimpiade 2008 Beijing terlewati. Tapi, momen pesta olahraga terbesar di dunia itu tak akan mudah dilupakan oleh Maria Kristin Yulianti. Maklum, di ajang tersebut namanya tercatat sebagai peraih medali perunggu.

Torehan itu cukup mengagumkan. Sudah lebih dari 12 tahun atau tiga kali pelaksanaan Olimpiade, kontingen Indonesia tak menuai medali dari bulu tangkis setor tunggal wanita. Terakhir, pada Olimpiade 1996 Atlanta Mia Audina menyumbangkan medali perak dan Susi Susanti menuai perunggu.

Prestasi Maria di Beijing sungguh mengejutkan. Sebab, pemain kelahiran Tuban, Jawa Timur, itu sesungguhnya tak diunggulkan sama sekali. Dia hanya dipatok bisa melaju ke perempat final. Maklum, jalan menuju peringkat ketiga tak mudah. Langkah Maria terhenti di semifinal setelah dihadang unggulan keenam asal Denmark Tine Rasmussen yang datang ke Olimpiade dengan modal juara All England 2008.

Pada perebutan tempat ketiga, Maria menundukkan Lu Lan, wakil tuan rumah Tiongkok. Maria dibanjiri pujian, tak terkecuali dari para peliput even akbar tersebut. Dia mendapatkan dua julukan sekaligus,
giant killer (pembunuh raksasa) dan cold blood killer (pembunuh berdarah dingin).

Maria mengatakan tak tahu-menahu soal itu. "
Masak sih. Saya malah tidak tahu. Memang apa hubungan julukan itu dengan penampilan saya?" ujar dia.

Menurut Hendrawan, pelatih Maria di Olimpiade Beijing, julukan tersebut tak lepas dari sukses pemain asuhannya itu mengalahkan para unggulan. "Dia (Maria, Red) selalu harus melewati tiga
game untuk menang. Mungkin itu yang membuat dia dijuluki giant killer," ujar Hendrawan.

Nah, sedangkan julukan cold blood killer, menurut Hendrawan, berhubungan dengan ekspresi Maria saat bertanding. Saat beraksi di lapangan, dia cenderung lemah gemulai. Hal tersebut sering membuat waswas pelatih, rekan, maupun penonton. "Ekspresi kemenangannya juga kurang. Dia tampak biasa-biasa saja," tegasnya.

Hadang Tiongkok


HYDERABAD - Tiongkok tetap menjadi kekuatan menakutkan dalam Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2009. Meskipun, para pebulu tangkis Negeri Panda itu tidak ditempatkan di posisi unggulan teratas dalam even yang mulai dilaksanakan hari ini di Hyderabad, India.

''Kami selalu mendorong pebulu tangkis untuk meraih hasil lebih baik daripada yang diharapkan. Itulah kunci sukses kami,'' jelas Li Yongbo, pelatih Tiongkok, setelah sesi latihan kemarin (9/8).

Itu mengindikasikan bahwa Tiongkok punya peluang besar menyapu bersih gelar. Apalagi, pebulu tangkis Tiongkok merajai beberapa turnamen kalender BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia).

Sementara, negara-negara lain, seperti Malaysia, Denmark, Hongkong, Indonesia, dan tuan rumah India, hanya mengandalkan sejumlah nomor.

Malaysia, misalnya. Negeri jiran itu mengandalkan Lee Chong Wei di tunggal pria. Dengan status unggulan pertama, Chong Wei tidak akan susah sekadar ke perempat final.

Baru di babak tersebut, Chong Wei akan diuji pebulu tangkis unggulan lain. Jika skenario berjalan lancar, lawan yang mungkin dihadapi Chong Wei di perempat final adalah Sony Dwi Kuncoro. Pebulu tangkis Indonesia itu diunggulkan di urutan keenam.

Bahkan, kubu Malaysia optimistis bahwa satu gelar dari tunggal pria bakal jatuh ke tangan Chong Wei.

''Lee Chong Wei saat ini dalam kondisi fit. Melihat latihannya, selama dua hari terakhir, dia tetap layak diunggulkan menjadi juara,'' papar Rexy Mainaky, salah seorang pelatih Malaysia.

Mantan pebulu tangkis ganda andalan Indonesia itu menambahkan, sejumlah pebulu tangkis ganda Malaysia juga berpeluang menambah gelar. Di antaranya, melalui unggulan utama ganda wanita Chin Eei Hui/Wong Pei Tty.

Selain Sony, pemain yang berpeluang menghentikan Chong Wei adalah Chen Jin, unggulan kedua dari Tiongkok, dan Peter Hoeg Gade, unggulan ketiga dari Denmark. Selain itu, tentu saja sang flamboyan asal Indonesia Taufik Hidayat, yang diunggulkan di urutan keempat, serta Lin Dan (Tiongkok) di posisi kelima.

Di tunggal wanita, unggulan teratas Zhou Mi dari Hongkong akan dikepung pebulu tangkis Tiongkok, Wang Lin (2), Wang Yihan (4), dan Xie Xinfang (5), serta Tine Rasmussen, unggulan ketiga asal Denmark.

Pemain idola tuan rumah, Saina Nehwal, layak dijagokan mendobrak dominasi lima unggulan teratas. Bermain di hadapan publik sendiri tentu akan membuat unggulan keenam itu lebih termotivasi. ''Bermain di hadaan publik India memberikan suasana berbeda. Saya lebih bersemangat,'' ungkap Saina.


BADMINTON. . . . . . . .
  • Menyehatkan badan!!!!! (Pastinya)
  • Menghilangkan stres!!!!!!! (Jelas)
  • Nambah temen!!!!!!!!!! (So pasti!.....................)
  • Prestasi. . . . . . . . . . . . . .

Nah, buat yang terakhir ni. . . . .
Prestasi! Yup! Badminton untuk menggapai cita-citamu setinggi langit! Kayak Taufik Hidayat neh. . . . . .