
Kuncinya Displin dan Anggap Guru sebagai Dewa Ketiga
India benar-benar membuktikan kebangkitan bulu tangkis mulai pertengahan 2009. Salah satu buktinya, pemain tunggal wanita Saina Nehwal sukses menjadi juara di Indonesia Open Super Series 2009 yang berakhir kemarin (21/6).
---
Kekuatan bulu tangkis India kembali mengancam, kali ini bahkan lebih istimewa. India tak lagi mengandalkan pemain pria seperti Pullela Gopichand di All England 2001 dan Prakash Padukone pada 1980. Kini India melahirkan seorang bintang wanita, Saina Nehwal, yang sukses menjadi juara Indonesia Open Super Series 2009 kemarin.
Tak ada patokan target juara yang dibawa Atik Jauhari, pelatih kepala India. Karena itu, pria asal Indonesia yang sejak Agustus 2008 menangani tim nasional India tersebut tak menyangka bahwa anak didiknya bisa menjadi jawara di turnamen berhadiah total USD 250 ribu itu.
"Saya malah hanya menargetkan dia bisa mendapatkan poin untuk naik peringkat ke posisi lima besar pada 2010. Siapa sangka dia bisa menjadi juara," ujar Atik.
Penampilan Saina memang mengagumkan. Dia rajin sekali membabat bola-bola yang diberikan oleh lawan. Mulai permainan net beralih ke bola belakang, semua dilibas dan dikembalikan dengan baik oleh Saina.
Lawanlah yang justru kesulitan mengembalikan bola Saina. Menghadapi Wang Lin, Saina justru mengandalkan permainan reli. "Saya selalu memompa kepercayaan dirinya dengan menyebut dia lebih kuat daripada lawan. Saya arahkan untuk bermain reli," ungkap Atik.
Kepuasan lain yang dirasakan oleh Atik adalah kesuksesan Saina menumbangkan dominasi Tiongkok di sektor tunggal wanita. Ya, Saina tak hanya menang atas pemain Tiongkok di final. Jalan menuju partai puncak sudah dilalui Saina dengan menundukkan wakil-wakil Negeri Panda. Di semifinal, pemain kelahiran 17 Maret 1990 itu sukses menumbangkan Lu Lan dua set langsung dengan skor 25-23, 21-19. Di final, Saina menumbangkan Wang Lin dengan hasil 12-21, 21-18, 21-9.
Saina menyatakan kaget dengan kemenangan itu. Dia sampai menangis dan melemparkan raket kepada penonton untuk meluapkan kegembiraan. "Itu seperti mimpi bagi saya. Mimpi yang jadi kenyataan. Dari drawing saja, begitu berat. Tapi, nyatanya, saya bisa melewatinya dan memperoleh kemenangan di sini," lanjut juara dunia junior 2008 itu.
Sukses jadi juara tersebut tidak lepas dari perjuangan keras Saina. Selama dua bulan terakhir, dia mendapatkan porsi latihan khusus, terutama menyangkut masalah fisik. Berat badannya selalu dikontrol sebelum berangkat ke negara tuan rumah turnamen yang diikuti. Targetnya, Saina tak boleh tampil dengan postur kegemukan. "Detailnya, saya tak bisa menceritakan. Hanya, kami memang mulai lebih optimal menggeber persiapan fisik sejak dua bulan lalu," papar dia.
"Dari semua aspek untuk stamina, mulai kekuatan otot, berat badan, setiap pemain menjadi perhatian," ujar Kiran Challagundla, pelatih fisik tim India.
Sejatinya, latihan tersebut tidak hanya diberikan kepada Saina, tapi juga pemain India lain. Dalam sehari, total latihan mencapai 6-7,5 jam. Khusus latihan fisik, diberikan porsi minimal dua jam sehari. Saina, menurut Kiran, merupakan pemain yang sangat disiplin. Dia akan melakukan apa saja perintah pelatih meski kepayahan.
"Di negeri kami, guru termasuk dewa yang harus dihormati. Pertama ibu, kedua ayah, dan ketiga guru, yang termasuk pelatih," terang Kiran.
Atik membenarkan kondisi itu. Kenyataan tersebut berbeda dengan perkembangan di Indonesia. "Wah, kalau di sini (Indonesia, Red) bisa-bisa pelatih yang menuruti keinginan pemain," sindir Atik.
Karena itu, Saina juga menyempatkan diri untuk sekolah. Memang, program belajar di India lebih mendukung karena kebutuhan ke sekolah cukup saat ujian layaknya Universitas Terbuka di sini. "Tapi, untuk sementara, saya fokus ke bulu tangkis dulu karena banyak turnamen," ucapnya.
----
